Seorang anak yang sedang menginjak
remaja. Di sekolah bertemu dengan teman-teman seusianya. Bermain, belajar,
beraktivitas, selalu bersama dalam keseharian mereka. Mereka menyebutnya
persahabatan. Indah? Ya! Tapi... semu.
Di kalangan para aktivis (ikhwan
akhwat) hanya istilah yang menjadi pembeda. Seperti istilah-istilah lain. Kamu
diganti antum, aku diganti ana, terima kasih diganti syukron. Persahabatan itu
hanya berganti cover dengan istilah ukhuwah islamiyah. Selain itu? Tidak ada
bedanya. Sama sekali.
Persahabatan atau ukhuwah itu
terlihat manis dan indah jika dilihat dari cover luarnya. Namun realitanya,
sangat menyesakkan hati. Lebih banyak cerita sakit hati daripada cinta sejati.
Di awal, memang banyak kisah indah
dalam hubungan ukhuwah itu. Berdakwah bersama, berjalan bersama, mengaji
bersama, dan seterusnya. Tapi di tengah jalan? Ketika badai dakwah yang
sebenarnya melanda, terjadi perselisihan, terjadi salah paham, dengan mudahnya
‘kisah indah’ itu berakhir dan hanya menjadi memori masa lalu yang sering
diratapi dan dirindui. Kenapa bisa begitu?
Seharusnya dari awal harus dipahami
bahwa, ukhuwah itu adalah sebuah PERJUANGAN. Sedangkan kita semua tau bahwa
perjuangan itu lebih banyak deritanya daripada manisnya. Atau bisa juga
penderitaan dahulu baru kemudian kita bisa merasakan manisnya hasil perjuangan
di akhir cerita. Tapi apa, kebanyakan orang mengharapkan lain dari urgensi
ukhuwah yang seharusnya. Akibatnya, sangat mudah terjadi kefuturan iman dan
ghirah hanya gara-gara masalah yang sangat sepele. Menyedihkan!
Kawan! Coba kita luruskan kembali
niat dalam hati kita. Apa tujuan utama dari proses ini. Kuatkan hati kalian,
tanamkan dalam pikiran kalian bahwa ketika kita memulai ikatan ukhuwah, kita
punya kewajiban untuk MEMPERJUANGKAN ikatan itu sampai ke syurga kelak! Ukhuwah
fil jannah
Kita tak pernah tau apa yang akan
terjadi di kehidupan masa mendatang. Maka, niat dari awal itu sangat penting.
Apapun rintangan yang menghadang di tengah jalan, tak akan mampu menggoyahkan
langkah kaki kita dalam menuju puncak perjuangan.



0 comments:
Poskan Komentar